<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><?xml-stylesheet title="XSL_formatting" type="text/xsl" href="https://news.samsung.com/id/wp-content/plugins/btr_rss/btr_rss.xsl"?><rss version="2.0"
     xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
     xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
     xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
     xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
     xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
     xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>
	<channel>
		<title>Corporate Citizenship &#8211; Samsung Newsroom Indonesia</title>
		<atom:link href="https://news.samsung.com/id/tag/corporate-citizenship/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://news.samsung.com/id</link>
        <image>
            <url>https://img.global.news.samsung.com/image/newlogo/logo_samsung-newsroom_id.png</url>
            <title>Corporate Citizenship &#8211; Samsung Newsroom Indonesia</title>
            <link>https://news.samsung.com/id</link>
        </image>
        <currentYear>2022</currentYear>
        <cssFile>https://news.samsung.com/id/wp-content/plugins/btr_rss/btr_rss_xsl.css</cssFile>
		<description>What's New on Samsung Newsroom</description>
		<lastBuildDate>Fri, 24 Apr 2026 21:12:24 +0000</lastBuildDate>
		<language>en-US</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
					<item>
				<title>Tingkatkan Kompetensi Guru SMK, Samsung dan Kemendikbudristek Selaraskan Kurikulum</title>
				<link>https://news.samsung.com/id/tingkatkan-kompetensi-guru-smk-samsung-dan-kemendikbudristek-selaraskan-kurikulum?utm_source=rss&amp;utm_medium=direct</link>
				<pubDate>Wed, 23 Nov 2022 17:50:08 +0000</pubDate>
						<category><![CDATA[Manusia & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[Citizenship]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate Citizenship]]></category>
		<category><![CDATA[Samsung CSR]]></category>
		<category><![CDATA[STI]]></category>
                <guid isPermaLink="false">https://bit.ly/3AEAIQl</guid>
									<description><![CDATA[Samsung dengan program pendidikan Samsung Tech Institute (STI) berkolaborasi dengan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif]]></description>
																<content:encoded><![CDATA[<p>Samsung dengan program pendidikan Samsung Tech Institute (STI) berkolaborasi dengan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), mengadakan <em>training of trainers </em>(ToT) untuk guru-guru SMK yang berada di bawah binaan STI, di BBPPMPV BOE Malang, Jawa Timur. Kegiatan ini melibatkan 114 <span>guru dari </span>76 <span>SMK dari berbagai daerah di Indonesia.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Program ToT kali ini bertujuan untuk menyelaraskan program STI dengan kurikulum Merdeka dari Kemendikbudristek, dan pada akhirnya untuk meningkatkan kompetensi guru, sehingga nantinya SMK yang akan mengembangkan konsentrasi Hand Held Product (HHP), Digital Appliance (DA), maupun Audio Video (AV) akan <span>mampu menghasilkan lulusan yang siap diserap industri maupun berwirausaha.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ennita Pramono, Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia</strong> mengatakan program ToT ini adalah bagian dari upaya penyelarasan kurikulum dan implementasi dari program <em>link and match</em> antara pendidikan dan dunia usaha. “Kami mengapresiasi <em>support</em> yang luar biasa dari Kemendikbudristek  melalui BBPPMPV BOE sejak diadakannya kegiatan ini pertama kalinya pada 2020. Kami berharap melalui program ini kompetensi guru-guru SMK semakin meningkat, khususnya dalam hal keselarasan kurikulum dengan kebutuhan industri dan penguatan <em>soft skills</em>, sehingga pendidikan vokasi seperti SMK betul-betul bisa mencetak lulusan yang siap kerja atau siap berwirausaha,” kata Ennita Pramono.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dukungan penuh terhadap kegiatan ToT ini diberikan oleh BBPPMPV BOE karena lembaga ini mempunyai tugas pokok antara lain melaksanakan pengembangan penjaminan mutu pendidikan vokasi sesuai dengan bidangnya. Selain menyusun program pengembangan penjaminan mutu pendidikan vokasi dan pelaksanaannya, BBPPMPV BOE juga memfasilitasi pelaksanaan peningkatan kompetensi PTK pada pendidikan vokasi dan melaksanakan kerja sama di bidang pengembangan penjaminan mutu pendidikan vokasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dr. I Gusti Made Ardana, Kepala BBPPMPV BOE</strong> menyambut positif pelaksanaan kegiatan ToT dengan fokus para guru <span>STI</span>. “Jika merujuk pada data yang ada,  masih banyak guru di Indonesia memiliki kemampuan terbatas dalam menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Maka yang kita lakukan ini sudah sesuai dengan upaya untuk meningkatkan literasi teknologi guru-guru kita. Selain itu, kegiatan ini juga sudah mengacu pada tiga dari enam strategi implementasi kurikulum Merdeka melalui komunitas belajar, berbagi praktik baik, dan bekerja sama dengan mitra pembangunan. Implementasi kurikulum Merdeka di jenjang SMK akan memperluat <em>link and match</em> antara pendidikan dan industri, sebab kurikulum ini memiliki struktur yang lebih sederhana dan mendalam<span style="text-decoration: line-through;">,</span> lebih relevan dan interaktif serta fleksibel untuk mengikuti perkembangan teknologi, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menyiapkan siswa SMK menghadapi perubahan yang cepat di industri.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Para peserta ToT pun mengakui banyak manfaat yang didapatkan dari pelatihan tersebut. <strong>Sigit Yuwono, guru mata pelajaran teknik audio video di SMK Muhammadiyah 3 Weleri, Kendal, Jawa Tengah</strong>, mengatakan terkesan dengan materi <em>soft skills</em>. “Ini sangat bermanfaat bagi anak-anak didik saya, terutama tentang bagaimana bersikap terhadap orang lain. Nanti ketika mereka bekerja akan sangat bermanfaat saat mereka berhadapan dengan <em>customer</em> dan sebagainya. Materi ini sangat luar biasa, semoga nanti bisa diimplementasikan di sekolah,” ucap Sigit Yuwono, yang sudah empat kali mengikuti kegiatan STI ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara itu, <strong>Anggun Desrivawany, guru mata pelajaran pengembangan perangkat lunak dan game di SMK Negeri 1 Beringin, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara</strong>, mengatakan bangga berkesempatan mempelajari kompetensi baru seperti teknologi <em>smartphone</em> Samsung. “Bagi siswa kami, karena jurusan kami itu <em>basic</em>-nya adalah pemrograman komputer, adanya materi teknologi <em>smartphone </em>ini membuat kompetensi mereka juga bertambah dan mereka juga merasakan suasana yang baru,” ujar Anggun yang sudah kali kedua mengikuti pelatihan ToT di STI.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ToT yang digelar STI tahun ini merupakan upaya penyelarasan program STI dengan kurikulum Merdeka. Penyelarasan kurikulum ini dipadukan dengan materi dari Samsung seperti pengenalan produk-produk terbaru <em>smartphone</em>, audio visual seperti TV dan perangkat audio, serta pengenalan <em>digital appliance</em> seperti mesin cuci, kulkas, dan penyejuk udara. Para peserta juga mendapatkan materi mengenai penguatan <em>soft skills</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Lulusan yang dihasilkan SMK perlu memiliki <em>soft skills </em>yang baik, bukan hanya<em> hard skills</em>, tetapi mereka juga harus  <span>memiliki karakter yang kuat. Itu juga menjadi salah satu fokus dalam kurikulum Merdeka karena di era </span>disrupsi  ini <em>soft skills</em> sangat diperlukan,” kata <strong>Dr. Miftahu Soleh, M.Sc, Kepala Departemen Listrik dan Elektronika BBPPMPV BOE Malang,</strong> yang menjadi salah satu pelatih di kegiatan <em>training of trainers</em> itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Samsung Tech Institute sendiri sejak awal merupakan program pendidikan dari Samsung yang menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi yang dibutuhkan industri. Program STI memberikan kesempatan bagi para siswa untuk memiliki keahlian yang sesuai dengan kebutuhan industri, serta mampu memperbesar peluang kerja ketika mereka lulus. Inisiatif ini sekaligus mendukung program<em> link and match</em> yang digaungkan oleh pemerintah sejak tahun 2017.</p>
]]></content:encoded>
																				</item>
					<item>
				<title>Cerita Inspiratif Menjadi Inovator Muda dari Siswa Peserta Samsung Innovation Campus 2022</title>
				<link>https://news.samsung.com/id/cerita-inspiratif-menjadi-inovator-muda-dari-siswa-peserta-samsung-innovation-campus-2022?utm_source=rss&amp;utm_medium=direct</link>
				<pubDate>Mon, 19 Sep 2022 08:58:43 +0000</pubDate>
						<category><![CDATA[Kewargaan Perusahaan]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate Citizenship]]></category>
		<category><![CDATA[CSR]]></category>
		<category><![CDATA[Samsung Innovation Campus]]></category>
		<category><![CDATA[SIC 2022]]></category>
                <guid isPermaLink="false">https://bit.ly/3eYrHcS</guid>
									<description><![CDATA[Untuk meningkatkan kapasitas siswa dalam bidang pengembangan Internet of Things (IoT), Samsung menyelenggarakan Samsung Innovation Campus (SIC) Batch 3 –]]></description>
																<content:encoded><![CDATA[<p><span>Untuk meningkatkan kapasitas siswa dalam bidang pengembangan Internet of Things (IoT), Samsung menyelenggarakan Samsung Innovation Campus (SIC) Batch 3 – 2021/2022  yang memasuki stage ketiga, yaitu IoT Product Development Bootcamp. Ini adalah kontribusi nyata Samsung untuk ikut serta membantu pemerintah meningkatkan kapasitas siswa dan mengakselerasi transformasi digital di Indonesia. </span></p>
<p><span> </span></p>
<p><span>Teknologi </span>IoT<span> mengalami pertumbuhan yang pesat di Indonesia. Data Kementerian Kominfo</span><a href="#_ftn1" name="_ftnref1"><span>[1]</span></a> p<span>ada 2022, akan terdapat 400 juta perangkat IoT di Indonesia dan akan menjadi 678 juta perangkat pada 2025 yang didorong oleh teknologi 5G. Laporan World Economic Forum<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a> bertajuk <em>The Future of Jobs Report 2020</em> menyebutkan, sebanyak 9 persen perusahaan pada 2025 sudah memanfaatkan teknologi IoT. Untuk mengantisipasi hal itu, Kominfo dan Kemendikbudristek<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a> kemudian mendorong peningkatan kapasitas dunia pendidikan SMA dan SMK dalam pemanfaatan TIK yang berfokus pada teknologi IoT, Big Data, Cloud Computing, Video Based Learning, Virtual Reality, dan Augmented Reality.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ennita Pramono, Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia</strong>, mengatakan “<span>Samsung Innovation Campus (SIC) Batch 3 – 2021/2022 sejalan dengan upaya pemerintah mendorong peningkatan kapasitas guru dalam bidang TIK dan mencetak siswa Indonesia sebagai generasi muda yang menguasai teknologi digital, mampu menghasilkan solusi nyata untuk berbagai permasalahan di komunitas mereka, dan siap bersaing di industri. Kami berharap pengalaman dan keterampilan yang mereka dapatkan di SIC akan bermanfaat bagi masa depan mereka.”</span></p>
<p><span> </span></p>
<p><span>SIC Batch 3 2021</span>/<span>2022 yang memasuki stage IoT Product Development Bootcamp dirancang untuk mendorong kapasitas siswa menjadi IoT Developer yang terampil dan siap diserap oleh industri, melalui kurikulum yang unik dan sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja (<em>Link and match</em>). Pada tahap <em>bootcamp</em> ini, para siswa diajarkan beberapa materi, diantaranya; <strong>Foundation &amp; Hardware</strong> (IoT), <strong>Networking &amp; Communication Basics</strong> (Raspberry Pi), <strong>Software &amp; Platform</strong> (MongoDB, PyMongo, UBIDOTS). </span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ardika Purna Siswa SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi Malang, </strong>mewakili kelompoknya berbagi pengalamannya mengikuti <em>bootcamp</em>. Ardika mengatakan, materi-materi yang diajarkan di <em>bootcamp</em> bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai konsep <em>design thinking</em>, innovation, berpikir kritis, program validation, membuat ide solusi, <em>python course</em>, dan <em>IoT course</em>, yang saling berkaitan dalam menggarap produk IoT.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Produk IoT yang dirancang oleh tim ini adalah <em>smart aquarium</em> yang disebut AQUAThings, dirancang untuk mempermudah mengontrol akuarium ikan hias melalui <em>smartphone</em>. Solusi ini bertumpu pada tiga fitur utama, yaitu IoT pengatur kadar PH air, IoT <em>feeder fish</em>, dan IoT pencahayaan akuarium.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cukup banyak tantangan yang harus mereka hadapi pada fase itu. Diantaranya adalah harus menggunakan bahasa pemrograman yang sama sekali baru dari yang pernah dipelajari, lalu saat merakit dan merangkai komponen perangkat IoT yang terdiri dari sensor-sensor, dan masalah <em>hardware engineering</em>. “Karena produk kami kan berhubungan dengan air, kami sudah sering mengalami konsleting saat perakitan karena sensor-sensornya ada di dalam air sehingga menyebabkan kerugian,” kata Ardika yang bercita-cita menjadi <em>hardware engineer</em> ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ardika berharap SIC periode berikutnya bisa diikuti oleh lebih banyak siswa dan sekolah sehingga lebih banyak yang merasakan manfaat program itu. Melalui SIC Ardika merasa keterampilannya bertambah dan pengertiannya mulai terbuka bahwa <em>hardware engineering</em> ternyata tidak melulu membuat produk macam handphone atau laptop. IoT yang ternyata juga penting karena banyak dibutuhkan orang untuk memecahkan masalah sehari-hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara itu, <strong>Daffa Eka Sujianto siswa dari SMK Al Huda, Kota Kediri Jawa Timur</strong>, mewakili kelompoknya mengatakan materi yang diajarkan di stage <em>bootcamp</em> adalah materi-materi baru, contohnya seperti cara menjalankan sensor dengan program <em>python</em>, mengirim data sensor ke data IoT, cara menjadikan ide menjadi produk melalui tahap perakitan <em>hardware</em> dan pembuatan program. “Kami senang bisa lolos sampai ke <em>stage</em> ini, karena kami belum pernah diajarkan materi-materi seperti itu, jadinya sangat bermanfaat,” kata Daffa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Desain <em>project</em> IoT tim Daffa adalah kacamata yang dilengkapi sensor <em>ultrasonic</em>, GPS, kamera, dan <em>speaker</em> yang bisa memberikan perintah berbelok kepada tuna netra berdasarkan data dari sensor. Kacamata itu diciptakan untuk membantu tuna netra untuk lebih mudah beraktivitas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tantangan yang dihadapi saat mengerjakan project itu terjadi pada tahap merakit <em>hardware</em>. Ternyata ada beberapa <em>hardware</em> yang tidak mendukung atau malah tidak tersedia. Selain itu, ada beberapa sensor yang tidak bisa menangkap sinyal, contohnya sensor GPS, sehingga harus membeli perangkat baru. Meski begitu, Ardika mengakui pelatihan ini banyak manfaatnya terutama dalam hal <em>problem solving</em>, sehingga jika ada masalah, bisa diselesaikan dengan tepat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Daffa berharap SIC di masa depan bisa menambahkan waktu untuk <em>mentoring</em>. Sebab menurutnya pertemuan dengan mentor itu sangat penting dalam menyelesaikan masalah yang terjadi ketika hendak mewujudkan ide.</p>
<p><span> </span></p>
<p><em>Stage</em> IoT Product Development Bootcamp di SIC<span> Batch 3 – 2021/2022 digelar pada Juni-September 2022. Tahap ini diikuti oleh siswa-siswi yang telah melewati seleksi <em>Stage</em> 2 dengan ide solusi dan nilai terbaik, yakni 100 siswa (25 tim) dari 6 MAN (8 tim) dan 10 SMK (17 tim) yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 100 siswa ini disaring dari 1.000 siswa dari 40 SMK dan 30 MAK/MAK/MAP yang berpartisipasi di SIC Batch 3 – 2021/2022. 1.000 siswa ini adalah mereka yang lolos dari <em>logic test</em> dari 3.000 pendaftar. Para peserta dibimbing oleh para mentor berpengalaman dari Skilvul. </span></p>
<p><span> </span><span></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1"><span>[1]</span></a> <span><a href="https://m.kominfo.go.id/content/detail/38730/siaran-pers-no-444hmkominfo122021-tentang-jawab-tantangan-kependudukan-menkominfo-pengembangan-smart-city-jangkau-dpsp/0/siaran_pers">Kementerian Komunikasi dan Informatika (kominfo.go.id)</a></span></p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2"><span>[2]</span></a> <span><a href="https://www.weforum.org/reports/the-future-of-jobs-report-2020/">The Future of Jobs Report 2020 | World Economic Forum (weforum.org)</a></span></p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3"><span>[3]</span></a> <span><a href="https://aptika.kominfo.go.id/2022/05/transformasi-sektor-pendidikan-aptika-sasar-sma-dan-smk-untuk-adopsi-teknologi-digital/">Transformasi Sektor Pendidikan, Aptika Sasar SMA dan SMK untuk Adopsi Teknologi Digital – Ditjen Aptika (kominfo.go.id)</a></span></p>
]]></content:encoded>
																				</item>
					<item>
				<title>Cerita Jujur Para Lulusan Sekolah Mitra Samsung Tech Institute</title>
				<link>https://news.samsung.com/id/cerita-jujur-para-lulusan-sekolah-mitra-samsung-tech-institute?utm_source=rss&amp;utm_medium=direct</link>
				<pubDate>Fri, 05 Aug 2022 09:23:40 +0000</pubDate>
						<category><![CDATA[Manusia & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate Citizenship]]></category>
		<category><![CDATA[CSR]]></category>
		<category><![CDATA[Samsung Tech Insititute]]></category>
		<category><![CDATA[SMK]]></category>
		<category><![CDATA[STI]]></category>
                <guid isPermaLink="false">https://bit.ly/3P94zEY</guid>
									<description><![CDATA[Prospek kerja yang lebih cerah bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) membuat minat masyarakat menyekolahkan anaknya di sekolah vokasi meningkat. Riset1]]></description>
																<content:encoded><![CDATA[<p>Prospek kerja yang lebih cerah bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) membuat minat masyarakat menyekolahkan anaknya di sekolah vokasi meningkat. Riset<span style="font-size: small;"><sup>1</sup></span> yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2021 lalu menunjukkan bahwa 82% responden tertarik melanjutkan pendidikan ke SMK karena peluang kerja yang bagus (57,8%) dan pilihan jurusan yang banyak (51,95%).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pendidikan vokasi seperti SMK memang dirancang untuk menghasilkan lulusan siap kerja. Tapi tanpa kompetensi yang mumpuni, lulusan SMK hanya makin menyumbang angka pengangguran terbuka yang saat ini sudah terbilang tertinggi (10,38%), menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022<span style="font-size: small;"><sup>2</sup></span>. Peningkatan kualitas pendidikan vokasi menjadi kunci untuk mengurangi pengangguran dan pemerintah mendorong kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri untuk mencetak tenaga kerja muda yang berkompetensi tinggi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Samsung Electronics Indonesia menjadi salah satu perusahaan yang berkomitmen untuk turut berkontribusi meningkatkan kualitas dunia pendidikan vokasi di Indonesia melalui program Samsung Tech Institute (STI). STI melalui mitra sekolah kejuruan dan setara sekolah menengah memberikan kesempatan bagi para siswa untuk memiliki keahlian yang sesuai dengan kebutuhan industri, serta mampu memperbesar peluang kerja ketika mereka lulus. Inisiatif ini sekaligus mendukung program <em>link and match</em> yang digaungkan oleh pemerintah sejak tahun 2017.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk menyerap lulusan, Samsung Tech Institute juga bekerja sama dengan mitra Samsung untuk memfasilitasi Program Kerja Lapangan, yang selanjutnya akan memberikan peluang bagi para siswa untuk mengikuti proses rekrutmen. Lulusan STI yang berhasil melewati proses ini mengakui bahwa materi yang dilatih di STI memang sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Khaerun Nisa</strong>, promotor di SPS Digi Store Makassar, Sulawesi Selatan, yang merupakan alumni STI dari SMK Negeri 10 Makassar, mengatakan berbagai materi yang dipelajari semasa belajar STI bisa diaplikasikan dengan baik saat dia bekerja. “Di STI kami belajar cara melayani pelanggan, bagaimana <em>attitude</em> saat berhadapan dengan pelanggan, dan juga <em>training</em> mengenai produk-produk Samsung, sehingga ketika pelanggan bertanya, saya bisa merekomendasikan produk Samsung yang paling cocok dengan kebutuhan mereka,” ujar Nisa. Tak heran bila Nisa selalu mencapai target yang diberikan di mana pun dia ditempatkan. Sebelum direkrut menjadi promotor, Nisa terlebih dahulu mengikuti program PKL <em>In-store</em> di salah satu mitra Samsung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Program STI pun tidak pandang bulu, memberikan peluang bekerja bagi siapa saja di bidang yang bahkan dipandang ‘tak lazim’.  Contohnya pengalaman <strong>Salma Oktaviani,</strong> tenaga SVC di Samsung Service Center Mall Ambassador, Jakarta. Alumni STI dari SMK Negeri 1 Cimahi ini mengakui bahwa tenaga teknisi memang mayoritas laki-laki. Tapi itu tak menyurutkan minat Salma untuk menggeluti bidang yang disukainya itu. “Di sekolah kan <em>basic</em>-nya juga memang teknik. Kendala dan tantangan pasti ada, tapi di STI kami sudah belajar mengenai produk Samsung, cara kerja <em>smartphone,</em> bongkar-pasang, dan lain sebagainya. Apa yang dikerjakan sekarang sudah dipelajari dasarnya di STI dan dikembangkan di sini,” kata Salma.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saat ini jumlah SMK baik negeri dan swasta di Indonesia, menurut catatan BPS  mencapai 14.198 sekolah dengan total siswa mencapai 5 juta lebih siswa. Namun sebagai penyumbang angka pengangguran terbuka yang tinggi, masih panjang jalan sekolah vokasi untuk menjadi solusi mengatasi masalah pengangguran. <strong>Kiki Yuliati, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kemendikbud RI</strong> mengatakan, “Peningkatan kualitas pendidikan vokasi di SMK adalah kunci untuk mengurangi pengangguran, salah satunya melalui kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri. Kami mengapresiasi langkah konsisten Samsung melalui program Samsung Tech Institute untuk mencetak lulusan SMK yang siap kerja dengan bekal keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kami yakin, jika langkah ini bisa diikuti lebih banyak perusahaan, dunia pendidikan vokasi di Indonesia akan mampu mencetak anak-anak muda yang handal dan siap kerja, bukan penyumbang angka pengangguran.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berdiri sejak 2013 dengan nama Rumah Belajar Samsung, program STI disempurnakan pada 2017 dengan memperkaya kurikulum dan memperluas target penerima manfaat yaitu SMK di Indonesia guna menghasilkan lulusan yang dapat diserap langsung oleh industri. SMK yang menjadi mitra STI harus memiliki paling tidak satu dari empat jurusan: Teknik Komputer, Teknik Audio Video, Teknik Elektronika, dan Rekayasa Perangkat Lunak. Para mitra ini akan mendapatkan beberapa keuntungan berupa kurikulum sinkronikasi, <em>guest lecture</em>, TOT (guru), PKL (<em>service center</em> &amp; <em>in-store</em>), peluang kandidat pegawai berdasarkan kebutuhan industri, serta panduan sarana dan prasarana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Siswa di Samsung Tech Institute juga berkesempatan mendapatkan pelatihan <em>coding</em> dan <em>prog</em><em>r</em><em>amming</em> melalui program Samsung Innovation Campus (SIC). Mereka yang lolos sampai fase <em>bootcamp</em> akan mendapatkan sertifikat keikutsertaan, sertifikat PKL, dan pelatihan bagi para guru pembimbing. Sebanyak 62% siswa lulusan STI tahun ini langsung diserap dunia kerja. Sebanyak 22% termotivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan sisanya, memutuskan untuk berwirausaha berbekal pengetahuan dan pengalaman kerja yang mereka dapatkan. Hal ini menunjukkan bahwa program STI sangat relevan dengan kebutuhan industri dan menghasilkan lulusan yang siap kerja maupun berwirausaha.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam kurun waktu 2017-2022 Samsung Tech Institute sudah meluluskan total 4.106 siswa. Khusus tahun 2022, Samsung Tech Institute meluluskan sebanyak 1.370 siswa dari 42 SMK di seluruh Indonesia melalui Uji Kompetensi Keahlian (UKK), yang dilaksanakan pada Maret-Juni 2022. Selain kompetensi umum yang menjadi penilaian ada beberapa standar kompetensi minimum sesuai kelas kurikulum pendidikan perbaikan elektronika yang dipilih, di antaranya adalah Home Appliances (HA), Audio Video (AV) dan Handheld Product (HHP). Adapun standar kompetensi minimum mencakup pengetahuan dasar produk, elektronika dasar, kemampuan membaca skema diagram elektronika, angkat pasang komponen. Penilaian UKK dilakukan oleh para ahli dan akademisi mitra Samsung dari Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika dari Kemendikbud-Ristek.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Tantangan SMK di Indonesia saat ini adalah bagaimana menjawab tantangan dunia kerja dengan mencetak lulusan yang siap kerja. Itulah sebabnya, sejak tahun 2017 Samsung merancang program Samsung Tech Institute yang sesuai dengan kebutuhan sekolah kejuruan di Indonesia dalam meningkatkan kompetensi siswa dan para tenaga pendidiknya melalui kurikulum, pengajaran, training guru, Praktik Kerja Lapangan, dan bahkan peluang perekrutan di Samsung dan mitranya sehingga begitu lulus alumni STI bisa langsung bekerja. Dari 4.106 siswa penerima manfaat STI, 50% telah lulus dan bekerja,” tutup <strong>Ennita Pramono, Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih lanjut mengenai <em>Corporate Social Responsibility </em>Samsung bisa dilihat di <a href="http://csr.samsung.com">http://csr.samsung.com.</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: small;"><sup>1</sup></span><span style="font-size: small;"> <a href="https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2021/04/minat-masyarakat-terhadap-pendidikan-vokasi-cukup-tinggi">https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2021/04/minat-masyarakat-terhadap-pendidikan-vokasi-cukup-tinggi</a> </span></p>
<p><span style="font-size: small;"><sup>2</sup></span><span style="font-size: small;"><a href="https://www.bps.go.id/website/materi_ind/materiBrsInd-20220509115801.pdf">https://www.bps.go.id/website/materi_ind/materiBrsInd-20220509115801.pdf</a> </span></p>
]]></content:encoded>
																				</item>
					<item>
				<title>Mengejar Kebutuhan Talenta Digital di Indonesia,  Samsung Innovation Campus 2022 Berikan Pelatihan Coding 1.000 Siswa</title>
				<link>https://news.samsung.com/id/mengejar-kebutuhan-talenta-digital-di-indonesia-samsung-innovation-campus-2022-berikan-pelatihan-coding-1-000-siswa?utm_source=rss&amp;utm_medium=direct</link>
				<pubDate>Tue, 21 Jun 2022 08:57:38 +0000</pubDate>
						<category><![CDATA[Kewargaan Perusahaan]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate Citizenship]]></category>
		<category><![CDATA[CSR]]></category>
		<category><![CDATA[Samsung Innovation Campus]]></category>
		<category><![CDATA[SIC]]></category>
                <guid isPermaLink="false">https://bit.ly/3b8Zwpv</guid>
									<description><![CDATA[Samsung Innovation Campus (SIC), inisiatif Corporate Citizenship dari Samsung yang mempunyai misi mencetak generasi digital yang siap kerja dan mampu menjawab]]></description>
																<content:encoded><![CDATA[<p><b>Samsung Innovation Campus (SIC)</b><span style="font-weight: 400;">, inisiatif Corporate Citizenship dari Samsung yang mempunyai misi mencetak generasi digital yang siap kerja dan mampu menjawab tantangan Industri 4.0, baru saja menyelesaikan program </span><i><span style="font-weight: 400;">Student</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">Coding &amp; Innovation Training</span></i><span style="font-weight: 400;">. Pelatihan tahap kedua dalam </span><b>SIC </b><b><i>Batch</i></b><b> 3 2021/2022</b><span style="font-weight: 400;"> ini menekankan pengembangan keterampilan siswa sekolah vokasi dalam hal </span><i><span style="font-weight: 400;">problem solving</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan merumuskan solusi atas masalah sosial dan lingkungan yang ada, serta dasar-dasar pemrograman Python yang populer.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Teknologi dan digitalisasi adalah komponen penting dalam Industri 4.0. Selain kesiapan infrastruktur, Indonesia juga terus mengejar kesiapan SDM dengan meningkatkan literasi dan keterampilan digital masyarakat agar dapat memanfaatkan teknologi dan digital untuk memecahkan masalah, memaksimalkan kesempatan, berpikir kritis, dan mengasah kreativitas untuk terus berinovasi. Berdasarkan data dari Kominfo<span style="font-size: small;"><sup>1</sup></span>, Indonesia diperkirakan akan membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital hingga tahun 2030 dalam mempersiapkan Industri 4.0. Artinya, ada kebutuhan 600 ribu talenta digital per tahun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemerintah telah menekankan pentingnya menyiapkan sumber daya manusia yang terampil dan mampu memanfaatkan digital dengan sebaik-baiknya. Korporasi diminta aktif dan mengerahkan potensinya untuk menghasilkan talenta-talenta digital dan mengembangkan kompetensi yang ada. Apalagi Indonesia masih menempati peringkat 87 dari 132 negara dalam Global Innovation Index 2021<span style="font-size: small;"><sup>2</sup></span>, yang menandakan Indonesia masih perlu terus mendorong bertumbuhnya inovasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melihat kebutuhan itu, Samsung melalui SIC menggelar tiga tahapan program, diantaranya Pelatihan Guru (Program <em>Training of Trainers</em>), Pelatihan <em>Coding</em> &amp; Inovasi, dan pelatihan IoT Pengembangan Produk. Ada 1.000 siswa yang dibagi menjadi 250 tim yang lolos ke Tahap 2 SIC <em>Batch 3</em> 2021/2022, dimana ada 360 siswa berasal dari MA/MAK dan 640 siswa dari SMK yang sudah menjadi partner Samsung dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ennita Pramono, Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia </strong>mengatakan,<strong> “</strong>Program SIC adalah komitmen perusahaan untuk meningkatkan kapasitas dan kesuksesan inovasi yang menjadi tantangan sistem pendidikan Indonesia dan mencetak talenta-talenta digital yang dibutuhkan industri. Program ini juga dirancang untuk membantu siswa di sekolah vokasi, menumbuhkan rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan di era Industri 4.0 dan mendapatkan bekal keahlian digital yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Kami juga mengapresiasi peran guru dan mentor yang telah menjadi motor penggerak para siswa dalam menyelesaikan tugasnya hingga tahap akhir dan mengarahkan mereka merancang desain produk yang inovatif, sehingga siswa merasa percaya diri dalam menjalani proses pembelajaran.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Program Coding &amp; Innovation Training ini menantang para siswa untuk mengembangkan <em>soft skill</em> dan menemukan ide-ide solusi untuk memecahkan masalah di komunitas atau lingkungan sekitar mereka. Penyampaian materinya sendiri dibagi dalam dua tahap, yaitu:</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>4 sesi webinar mengenai <strong>Problem Definition</strong> – <strong>Explore</strong> (mengeksplorasi solusi dan peluang serta menampung aspirasi), <strong>Ideation dan Experiment </strong>(mengembangkan dan membangun ide solusi IoT), <strong>Prototyping – Imagine </strong>(menerjemahkan ide ke dalam <em>prototype</em>), sampai dengan <strong>Pitching – Storytell</strong> (mempresentasikan masalah dan solusi).</li>
<li>5 sesi webinar dan pembelajaran daring mengenai bahasa pemrograman Python, meliputi <strong>Python Dasar, Python Intermediate, </strong>dan<strong> Algorithm &amp; Data Structures </strong>(Konsep dasar &amp; algoritma Python, mempelajari dan menerapkan struktur data inti dan analisa data Python).</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Python dipilih sebagai bahasa pemrograman ini adalah salah satu yang paling populer di dunia saat ini. Permintaan para profesional untuk membangun program-program yang menerapkan dasar-dasar Python berada di ranking paling atas. Program-program ini diyakini mampu mendorong solusi bisnis di seluruh industri. Python sendiri banyak digunakan untuk pembuatan program yang umum, seperti aplikasi pada <em>smartphone</em>, IoT, <em>games</em>, dan <em>website</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari survei yang dilakukan terhadap siswa, 68,6% siswa berpartisipasi dalam program SIC karena tertarik untuk mempelajari <em>coding</em>, <em>programming</em>, IoT, dan AI. Para siswa juga merasakan peningkatan keterampilan setelah training. Sebanyak 55,8% mengatakan keterampilan <em>Design Thinking</em>-nya meningkat dan 52,9% mengalami peningkatan keterampilan Python dasar. Sebanyak 44% mengatakan kemampuan <em>pitching</em> mereka jadi lebih baik. Berbagai ide mengenai solusi teknologi praktis mereka cetuskan, mulai dari teknologi regulator pendeteksi kebocoran gas, penyortir buah yang canggih, sampai dengan pendeteksi level bumbu dapur dalam masakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah satu siswa yang mengikuti pelatihan, <strong>Nur Aulia Sabrina dari SMK Negeri 6 Kota Bekasi, </strong>mengatakan “Pelatihan yang didapatkan membuat saya bisa lebih menguasai keterampilan yang dibutuhkan oleh industri. Saya mengusulkan ide project<em> Automatic Package Storage </em>(APS) dengan alasan saya ingin membantu orang-orang yang sering berbelanja secara online, agar bisa memberikan mereka rasa aman dengan barang yang mereka pesan, dengan menyimpannya ke dalam alat tersebut,” jelas Nur Aulia Sabrina mengenai ide proyek yang sedang digarapnya. Ia berharap kedepannya Samsung dapat mendukung pengembangan prototipe produk yang didesain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>SIC adalah inisiatif <em>Corporate Citizenship</em> dari Samsung yang dimulai sejak tahun 2019, sebagai bentuk kontribusi nyata untuk pertumbuhan digitalisasi di Indonesia dan bertujuan mencetak generasi muda siap menghadapi tantangan industri 4.0 melalui pembekalan keahlian digital. SIC bekerjasama dengan Skilvul, sebuah platform pendidikan teknologi yang menyediakan konten pelajaran digital skill, dengan menyediakan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan digital sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih lanjut mengenai <em>Corporate Social Responsibility </em>Samsung, bisa dilihat di <span><a href="http://csr.samsung.com/">http://csr.samsung.com.</a></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-4625" src="https://img.global.news.samsung.com/id/wp-content/uploads/2022/06/21084643/Infografis-SIC-Tahap-2-1.jpg" alt="" width="899" height="2332" srcset="https://img.global.news.samsung.com/id/wp-content/uploads/2022/06/21084643/Infografis-SIC-Tahap-2-1.jpg 899w, https://img.global.news.samsung.com/id/wp-content/uploads/2022/06/21084643/Infografis-SIC-Tahap-2-1-217x563.jpg 217w, https://img.global.news.samsung.com/id/wp-content/uploads/2022/06/21084643/Infografis-SIC-Tahap-2-1-768x1992.jpg 768w, https://img.global.news.samsung.com/id/wp-content/uploads/2022/06/21084643/Infografis-SIC-Tahap-2-1-395x1024.jpg 395w" sizes="(max-width: 899px) 100vw, 899px" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: small;"><sup>1</sup></span> <span style="font-size: small;"> <span><a href="https://m.kominfo.go.id/content/detail/29630/sekjen-kominfo-kolaborasi-dorong-perkembangan-talenta-digital/0/sorotan_media">Kementerian Komunikasi dan Informatika (kominfo.go.id)</a></span> </span><br />
<span style="font-size: small;"><sup>2</sup></span> <span style="font-size: small;"> <span><a href="https://www.wipo.int/edocs/pubdocs/en/wipo_pub_gii_2021/id.pdf">INDONESIA (wipo.int)</a></span> </span></p>
]]></content:encoded>
																				</item>
					<item>
				<title>Samsung Fasilitasi PKL 412 Siswa SMK Partner Samsung Tech Institute</title>
				<link>https://news.samsung.com/id/samsung-fasilitasi-pkl-412-siswa-smk-partner-samsung-tech-institute?utm_source=rss&amp;utm_medium=direct</link>
				<pubDate>Wed, 27 Apr 2022 08:05:35 +0000</pubDate>
						<category><![CDATA[Kewargaan Perusahaan]]></category>
		<category><![CDATA[Siaran Pers]]></category>
		<category><![CDATA[Citizenship]]></category>
		<category><![CDATA[Corporate Citizenship]]></category>
		<category><![CDATA[CSR]]></category>
		<category><![CDATA[Samsung Tech Institute]]></category>
                <guid isPermaLink="false">https://bit.ly/3vGShvz</guid>
									<description><![CDATA[Samsung memfasilitasi 412 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang telah lulus seleksi ke dalam program Praktek Kerja Lapangan (PKL) Samsung In-store dari]]></description>
																<content:encoded><![CDATA[<p>Samsung memfasilitasi 412 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang telah lulus seleksi ke dalam program Praktek Kerja Lapangan (PKL) Samsung In-store dari total 990 siswa yang mendaftar. Program PKL ini dilakukan pada 12 Januari 2022 hingga 20 Maret 2022 kemarin .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>PKL merupakan kegiatan pendidikan, pelatihan dan pembelajaran yang dilaksanakan oleh dunia usaha atau dunia industri yang relevan dengan dengan kemampuan dan kompetensi dari siswa sesuai bidangnya. PKL diperkuat dengan UU Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah No 60 tahun 1999 tentang Sistem Pendidikan Tinggi serta Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 2341U2001 tentang Kurikulum Nasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Program PKL &#8211; Samsung In-store dilakukan di hari Kamis, Jumat, serta Sabtu dan Minggu. Mulai tahun ini, Samsung memutuskan untuk memberi kesempatan siswa menyelesaikan PKLnya juga di gerai-gerai Samsung dimana sebelumnya penempatan PKL ini hanya berlangsung di Samsung Service Center. Gerai Samsung yang menerima siswa-siswa STI terbaik mencapai 428 store, tersebar di 8 area meliputi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jabodetabek, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Bali, Nusra, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Maluku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ennita Pramono</strong>, <strong>Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia</strong> menyampaikan rasa optimisnya melihat semangat para siswa saat menjalankan PKL, “Terjun ke dunia kerja nyata adalah hal yang sangat ditunggu oleh siswa-siswi STI agar bisa mempraktekkan langsung apa yang mereka pelajari. Hal ini menambah rasa optimis atas apa yang Samsung lakukan di program STI, kami ingin membantu para tenaga kerja <span>muda ini </span>untuk bisa tampil percaya diri sekaligus membantu pemerintah mencetak tenaga-tenaga kerja yang terampil, berpengetahuan luas, cekatan sekaligus luwes dalam melayani pelanggan. Para siswa tampak memanfaatkan ilmu yang dipelajari di STI. Ini adalah modal yang baik untuk meningkatkan nilai employabilitas siswa saat lulus nanti.” Sejak tahun 2013 Samsung telah menginisiasi program STI dan memantapkan komitmennya membantu pemerintah mencetak tenaga kerja yang berkualitas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertumbuhan ekonomi telah mendorong kemajuan di sektor industri yang membutuhkan SDM terampil dan berkualitas. Salah satu penyumbang tenaga kerja Indonesia adalah SMK yang mencetak pekerja muda. Ibarat jauh panggang dari api, lulusan SMK yang diharapkan menjadi pekerja yang produktif, alih-alih menjadi penyumbang pengangguran terbesar dan jumlahnya mencapai <a href="https://www.kemenperin.go.id/artikel/20402/Kurangi-Pengangguran,-Vokasi-Industri-Berhasil-Gaet-400-Ribu-Siswa-SMK">11%</a> di usia produktif. Hal ini disebabkan oleh keterampilan para lulusan yang tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan industri maupun dunia kerja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melihat kondisi ini dan melihat kebutuhan SDM terampil yang terus meningkat, tahun 2003 pemerintah melalui <strong>Kementerian Riset dan Teknologi</strong> merancang pengembangan <strong><em>link and match</em></strong> antara SMK dan perusahaan dalam pelaksanaan <strong>program</strong> sistem intensif penguatan teknologi dan manajemen. Samsung juga berpartisipasi aktif dan mengambil langkah konkret dengan menyiapkan program pendidikan vokasi Samsung Tech Institute yang berfokus pada keterampilan kerja, penguasaan informasi, dan keluwesan melayani konsumen. Samsung juga menyiapkan program PKL Samsung In-store sebagai <em>live-class</em>. Selama mengikuti PKL, siswa akan terjun di dunia kerja mempraktekkan pengetahuan dan keterampilan, serta mendalami pemahaman lingkungan kerja di industri. “Melihat semangat dari 412 siswa PKL ini, kami sangat optimis bahwa program ini berdampak positif dalam menumbuhkan rasa percaya diri dan membangun keterampilan di lapangan. Kedua hal ini akan meningkatkan kualitas SDM, dan diharapkan dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja lulusan SMK,” tambah Ennita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Program Samsung In-Store memfokuskan pada hal-hal berikut:</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><em>On board training</em>: peserta mendapatkan materi <em>basic tech </em>dan<em> standard grooming,</em> proses penjualan produk, dan <em>product knowledge.</em></li>
<li><em>On the job training</em>: peserta mendapatkan materi mengenai produk dan <em>in-store </em>yang fokus pada produk dan kemampuan penjualan.</li>
<li>Penempatan kerja di gerai Samsung.</li>
<li>Monitoring: performa peserta dipantau dan dinilai setiap hari oleh <em>Team Leader.</em></li>
<li>Evaluasi mencakup <em>Activity during Training, Activity during In-Store Job, Materials Understanding, </em>dan<em> Materials Implementation, </em>yang dapat digunakan peserta untuk memperbaiki kekurangan-kekurangannya.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p>Seluruh peserta PKL yang telah mengikuti dan menyelesaikan program PKL Samsung In-store dengan baik akan menerima sertifikat dengan indikator penilaian di setiap tahapan yang telah dilalui yang menjadi gambaran keterampilan masing-masing. Indikasi keterampilan ini dapat digunakan dan disampaikan saat melamar pekerjaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah satu peserta PKL, <strong>Rahmad Effendy, Siswa SMKN Negeri 1 Beringin, Sumatera Utara</strong>, mengakui sangat bangga dapat mengikuti program ini. Dimulai dari ketertarikan Rahmad Effendy  akan teknologi sejak duduk di bangku SMP. Rahmad termotivasi untuk mengikuti program PKL Samsung In-Store, karena menurutnya Samsung adalah <em>brand </em>besar yang dinilai memiliki pangsa pasar paling besar saat ini dan  selalu menjadi pelopor dalam mengembangkan fitur-fitur teknologi yang inovatif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Selama masa pembelajaran PKL in-store yang diadakan oleh Samsung ini saya mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran baru tentang bagaimana caranya membuat konsumen tertarik membeli produk Samsung, dengan melayani dengan sepenuh hati, dimulai dengan sambutan yang ramah, menanyakan kebutuhan konsumen, mencarikan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka, dan menjelaskan secara detail spesifikasi dan fitur-fitur menarik yang ditawarkan oleh produk tersebut, biasanya akan membuat konsumen tersebut akan tertarik untuk mencoba dan membeli produk yang saya tawarkan,” ungkap Rahmad.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rahmad yang sangat <em>passionate</em> ini memiliki cita-cita menjadi pengusaha yang sukses, merasakan banyak manfaat dan pengalaman yang berharga selama masa PKL, diantaranya teknik marketing, pelayanan pelanggan, dan pengetahuan detail akan sebuah produk, yang dia yakini akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat untuk meraih cita-citanya dan mengadapi persaingan dalam dunia pekerjaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Program STI sudah dimulai pada 2013 dan sejak 2017 memfokuskan pada siswa/siswi SMK sebagai penerima manfaat menyesuaikan program dengan Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2016 mengenai Revitalisasi SMK dengan semakin memperluas manfaat dengan adanya Program Link &amp; Match , penyelarasan kurikulum Handheld Product (HHP), Home Appliances (HA), Audio Video (AV) bagi pihak sekolah dan industri, untuk  meningkatkan <em>skill</em> dan kompetensi hingga setelah lulus siswa dapat bersaing dalam mendapatkan pekerjaan dan atau membuka lapangan usaha baru, memfasilitasi PKL <span>dan kesempatan kerja</span> sesuai dengan kebutuhan industri, Train of Trainers Guru serta bermitra dengan pemerintah. Sedangkan untuk program PKL, telah dimulai sejak tahun 2019, dengan menempatkan beberapa siswa terpilih ke Samsung Service Center untuk mendapatkan pengalaman praktik perbaikan alat elektronik, melayani konsumen, dan pengalaman bekerja langsung di lapangan. Dan pada Januari 2022, STI mulai menjalankan program PKL Samsung In-Store untuk mendapatkan pengalaman <em>sales </em>dan<em> marketing</em>. Lebih dari 75 <span>sekolah vokasi yang sudah bergabung dengan STI dan </span>7.000 siswa serta 200 guru merasakan manfaat STI.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih lanjut mengenai <em>Corporate Social Responsibility </em>Samsung, bisa dilihat di <a href="http://csr.samsung.com">http://csr.samsung.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
																				</item>
			</channel>
</rss>
